Rumah memang bukan sekedar tempat kembali. Ketika kita memasukinya, semua kenangan kembali tergambar dengan jelas. Setiap sudut bercerita, tayangan slide keja
dian beeputar seperti video jadul.
Langkahku terhenti pada anak tangga ke lima dari bawah seketika teringat waktu aku masih kecil terjun bebas tanpa parasut yang terburu-buru menuruni tangga untuk mengambil kelerengku yang jatuh. Ku raba kepalaku, kirasakan masih membekas di kepala tersembunyi dibalik rambut. Bekas itu masih membekas jelas membangkitkan kenangan secara emosianal ; bahagia, sedih, tertawa sendirilah.
Sampai di pintu depan, gejolak hasrat ingin pipisku muncul. Bergegasku menuju kamar mandi, kunikmati aliran dan alunan air gemerincik yang membuatku hanyut dalam ingatan dimana dinding kamar mandi ini menjadi saksi dimana aku meringis menahan sakit akibat ayunan ikat pinggang kopal Papa yang menari mengejeku karna perkelahian dengan adikku.
Teringat ku disaat merasakan klimaks dimana bibit-bibit unggul hanyut mengalir bersama air saja.
It's normal, frekuensi yang terkontrol bisa secara signifikan mengurangi berbagai risiko kesehatan. Jika kamu bisa menahannya gak masalah, tapi kebutuhan biologis ini gak bisa dibohongi. hahaha.
Ah , setiap sudut dirumah ini dapat bercerita hal-hal yang sederhana menjadi kontras. Setiap sudut membangkitkan kenangan-kenangan. Memori tinggal selama puluhan tahun adalah kehangatan yang tak dapat dipungkiri.
Rumah masa kecil juga dapat membuat kita merenung tentang berbagai pelajaran berharga yang kita dapatkan pada masa tersebut. Seperti belajar tentang kejujuran, persahabatan, keberanian dan kebahagiaan. Mengenang masa kecil yang penuh makna juga bisa menjadi pengingat, bahwa kita harus tetap menjaga kepolosan, keceriaan dan kebahagiaan di dalam hati, sebagaimana yang kita miliki saat masih kecil.
